JAKARTA (KM) - Di gelaran lomba burung berkicau dewasa ini, burung
Cucak Ijo (
Chloropseidae)
semakin jadi primadona. Hampir setiap kelas yang dibuka, nyaris full
gantangan. Bahkan di beberapa gelaran lomba, Cucak Ijo berhasil
menggeser beberapa jenis burung papan atas lainnya.
Melambungnya popularitas Cucak Ijo ditandai dengan makin banyaknya
jumlah penggemar. Ditambah, Cucak Ijo yang berhasil menjuarai lomba
selalu silih berganti, tidak monoton burung itu-itu saja seperti yang
kerap terjadi di kelas Murai Batu atau Kacer misalnya. Akibatnya, banyak
Ijomania yang penasaran ingin menjajal kemampuan burungnya.
“Kelas Cucak Ijo relatif ramai dan berimbang, tidak ada satu burung yang
selalu mendominasi dari satu lomba ke lomba lain. Itulah enaknya main
cucak ijo,” ujar Handono (
Hanz KM).
Karekteristik Cucak Ijo memang agak misterius, susah ditebak, sehingga
juara baru sering muncul. Apabila sudah di lapangan, maka penampilan dan
faktor keberuntungan ikut mempengaruhi hasil akhir. Jadi peluang juara
masih terbuka bagi setiap peserta.
Akibat makin ngetrennya Cucak Ijo , dari sejumlah lomba,
event organizer
(EO) berani membuka tiga kelas Cucak Ijo atau lebih. Bahkan, tidak
sedikit pula EO yang menempatkan Cucak Ijo ke dalam kelas utama atau
paling bergengsi.
Makin digemarinya Cucak Ijo akhir-akhir ini, tak heran bila hukum
ekonomi akhirnya berlaku. Harga Cucak Ijo baik bahan atau yang sudah
jadi makin melambung.
Meski penggemarnya makin membludak, ternyata tidak sedikit pula yang
putus asa dan kapok bermain Cucak Ijo. Karena kemisteriusannya itulah
yang membuat kicaumania banyak yang mengalami kegagalan dalam
mengorbitkan Cucak Ijo.
Memecahkan Kemisteriusan Cucak Ijo
Bagi sebagian kicaumania, kemisteriusan itu justru menjadi tantangan
tersendiri. Sehingga, pemain Cucak Ijo dipastikan sudah teruji dalam hal
kesabaran dalam merawat burung yang berkarakter berubah-ubah.
“Burung Cucak Ijo itu penuh misteri, sangat sulit untuk mencari atau
menghasilkan Cucak Ijo yang stabil,” aku Hanz, pemilik Cucak Ijo Obama
asal Surabaya ini.
Hanz mengaku, rawatan harian dan memahami karakter Cucak Ijo adalah hal
yang tersulit. Berdasarkan pengalamannya menjadi Ijomania, merawat Cucak
Ijo lebih sulit dibandingkan burung-burng lomba lainnya.
“Saya punya 10 Cucak Ijo, dan semuanya beda-beda pola rawatannya, dan
rawatan satu burung bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi,”
ungkap Hanz.
Tidak jauh berbeda,
Bobby KCI juga berpendapat dalam merawat
Cucak Ijo terdapat tantangan untuk berkreativitas dalam merangkai
perawatan harian yang berujung rawatan lomba. Karena Cucak Ijo kondisi
hari perhari tidak selalu sama.
“Hal menarik lagi adalah gaya elegan ngentrok jambul saat beraksi di
gantangan dengan suara-suara masteran yang menarik,” ujar pemilik Cucak
Ijo Mr Granat ini.
Bobby KCI menjelaskan, selama kondisi normal minimal sekali kesulitannya
asal sudah tau karakter harian Cucak Ijo tersebut. Bilamana kondisi
birahi harus telaten dalam perawatan harian untuk menormalkan birahinya.
“Cucak Ijo gampang lepas bulu halus maupun bulu besar (nyulam). Jadi
harus sabar untuk menunggu bulu tumbuh normal lagi,” jelasnya.
Penggemar Cucak Ijo Sumatera, Anggita Sapta Syaknan (
Anggit KM Jatim)
menambahkan, apa yang menjadi kesulitan dalam merawat Cucak Ijo antara
lain karakter Cucak Ijo mudah dipengaruhi faktor external, jadi
dibutuhkan ketelitian dalam pemeliharaannya dibanding burung lomba lain.
“Cucak Ijo tidak selalu birahi karena makanan atau burung sejenis saja,
tetapi lingkungan, warna, burung masteran dan cuaca bisa menjadi pemicu
birahi,” jelas Anggit, pemilik Cucak Ijo Sempu.
Anggit mengatakan, perawat Cucak Ijo yang tidak memahami gejolak Cucak
Ijo dapat membuat performa lomba Cucak Ijo turun bahkan rusak seperti
over birahi (OB), nyulam bulu terus menerus, drop atau macet hingga
rusak pita suara dan kematian.
“Memang sulit menjaga performa Cucak Ijo dalam jangka waktu panjang,
sehingga para pecinta Cucak Ijo cenderung memiliki Cucak Ijo lebih dari
satu sebagai pelapis atau selingan,” ungkapnya.
Anggit menyontohkan Cucak Ijo andalannya, Sempu yang membutuhkan
perawatan extra. Perawatan harian Sempu tidak boleh melihat burung lain
apapun meski berbeda jenis dan tidak boleh mendengar burung yang terlalu
gacor karena akan memancing birahinya.
“Ditambah juga tidak tidak boleh melihat warna hijau. Jadi dipastikan
dihindarkan dengan burung lain warna hijau, kerodong warna hijau, atau
apapun di sekitarnya yang berwarna hijau,” ujarnya.
Sementara Fredy KM termotivasi bermain Cucak Ijo lantaran tertarik
dengan warnanya yang terang dan mencolok. Ditambah, burung Cucak Ijo
adalah endemik asli Indonesia.
Fredy KM sendiri tidak terlalu memusingkan kesulitan-kesulitan mengatasi
birahi Cucak Ijo. Karena baginya, semua burung juga mengalami hal sama,
hanya penanganannya saja yang berbeda. “Memang kesulitannya pada saat
birahi, tapi semua burung ada birahinya koq, jadi ya sama saja,”
yakinnya.
Menjinakkan Cucak Ijo Giras Jadi Tantangan
Selain masalah birahi yang kerap merepotkan Ijomania, masalah
menjinakkan Cucak Ijo juga menjadi tantangan tersendiri. Karena Cucak
Ijo bahan terkenal dengan agresivitasnya sehingga tak jarang menyebabkan
luka parah akibat menabrak ruji hingga berujung ke kematian.
Meski sudah banyak panduan mengenai cara menjinakkan burung Cucak Ijo
bakalan, faktanya masih banyak Ijomania yang dibuat repot dengan
piaraannya yang masih giras dan liar.
Dalam berbagai kasus, banyak Ijomania yang sudah berminggu-minggu
melakukan penjinakan, namun Cucak Ijo masih tetap tidak mau jinak.
Hanz menyarankan, ketika punya Cucak Ijo bakalan baru, sebaiknya burung
ditempatkan dalam sangkar yang bersih dan menggantangnya di tempat sepi,
tanpa ada burung lain hingga beberapa hari.
Hal ini agar Cucak Ijo bisa beradaptasi dan terbiasa dengan kondisi
sangkar dan lingkungan sekitar. Karena jika Cucak Ijo tidak tenang, akan
terus gelisah dan menabrak-nabrak ruji sangkar.
“Jika tidak ada tempat yang tenang, sebaiknya di kerodong agar Cucak Ijo terbiasa mendengar situasi lingkungan,” saran Hanz.
Setelah Cucak Ijo mulai agak tenang, burung bisa dikenalkan pada
lingkungan manusia dengan cara menggantang burung di tempat ramai atau
yang biasa dilalui manusia.
Hal tersebut bertujuan meningkatkan daya adaptasinya agar mengenali
lingkungan sekitar, juga membiasakan burung menghadapi lalu-lalang
manusia. Dengan begitu, karakter dan mentalnya mulai terbentuk, sehingga
bisa mempercepat kondisi rajin berbunyi.
Mengenali Endemik Cucak Ijo
Meskipun nama umumnya adalah Cucak Hijau atau Cucak Ijo, namun burung
ini bukanlah keluarga merbah atau cucak-cucakan. Burung Cucak Ijo sama
sekali bukan satu suku dengan Cucak Rawa atau Cucak Jawa misalnya.
Yang biasa kita sebut Cucak Ijo ini memiliki nama ilmiah
Chloropsis Sonnerati. Dia adalah burung cica-daun besar dengan seluruh badan dominan dengan warna hijau.
Chloropsis Sonnerati termasuk ke dalam suku
Chloropseidae, berkerabat dekat dengan burung Cipoh (
Aegithina spp). Dalam bahasa Inggris burung ini dikenal sebagai
Greater Green Leafbird.
Jenis-jenis Cica Daun juga dikenal dengan sebutan umum burung daun, atau
murai daun. Bertubuh sedang, dengan panjang tubuh total (diukur dari
ujung paruh hingga ujung ekor) sekitar 22 cm. Seperti umumnya Cucak Ijo,
seluruh tubuh didominasi warna hijau terang (hijau daun), termasuk
sayap dan ekor. Sementara pipi dan tenggorokan burung jantan berwarna
hitam berkilau.
Perbedaan dengan Cica Daun yang lain adalah adanya warna (noktah) biru
pada bahu burung jantan. Burung betina dengan tenggorokan kuning dan
lingkaran mata kuning. Kedua jenis kelamin memiliki sepasang setrip
malar biru berkilau di sisi dagunya. Iris mata berwarna coklat gelap,
paruh tebal hitam, dan kaki abu-abu kebiruan.
Jenis burung ini kadang bersikap agresif terhadap jenis lain yang
berukuran lebih kecil. Saat berkicau, Cucak Ijo akan menundukkan kepala,
membuka sayap dan bulu kepala ngejambul atau istilahnya ‘ngentrok’.
Cucak Ijo Ngentrok Dambaan Ijomania
Mengatur extra fooding (EF) secara tepat menjadi kunci utama agar Cucak
Ijo bisa ngentrok. Biasanya, Ijomania menggunakan EF jangkrik dan ulat
bambu. Kedua EF ini punya fungsi masing-masing sesuai kebutuhan kondisi
Cucak Ijo.
Jangkrik bersifat menaikan birahi dan ulat bambu berfungsi meredam
birahi. Dengan mengetahui kondisi Cucak ijo, maka Ijo mania tahu betul
EF mana yang disajikan agar kondisi birahi Cucak Ijo terkontrol dan
stabil.
Namun tetap saja Ijomania wajib berhati-hati dalam memicu Cucak Ijo agar
ngentrok. Karena jika dipaksakan dan berlebihan, gaya ngentrok justru
bisa mengurangi kualitas suara kicauan, sehingga burung tampil kurang
maksimal dan tidak bongkar lagu-lagu isiannya. Karena kondisi ngentrok
tertentu, bisa disebabkan over birahi , sehingga terlalu emosi dan hanya
bergaya ngentrok tanpa berkicau.
Karakter dari setiap Cucak Ijo tidak selalu sama, karenanya sudah
menjadi kewajiban Ijomania untuk meraba karakter Cucak Ijo miliknya saat
mencari setelan harian dan setelan lomba yang tepat.
“Pemain Cucak Ijo semua mendamba burungnya tampil dengan gaya ngentrok,
namun tetap bongkar isiannya dan menyerang pesaing-pesaingnya,” ujar
Anggit.
Ingat, Cucak Ijo bukanlah tipe burung petarung (
fighter) layaknya
Murai Batu, Kacer, dan Cendet yang cenderung mempertahankan
teritorinya. Namun, kicaumania tetap saja menganggap Cucak Ijo adalah
burung semi-
fighter.
Cucak Ijo memerlukan setelan pakan tertentu untuk mendongkrak birahinya
agar berada dalam level proporsional (tidak kurang dan tidak OB).
Keberhasilan inilah yang menentukan penampilan Cucak Ijo di arena lomba.
Untuk membuat birahi Cucak Ijo stabil saat digantang bukan pekerjaan
mudah. Selain harus tahu karakter burung, perawat juga harus memahami
bahwa jika dalam kondisi tertekan, Cucak Ijo akan mengalami penurunan
performa dan kondisi itu bisa berlangsung dalam satu sesi lomba atau
lebih.
OB juga dipastikan akan menurunkan performa Cucak Ijo. Perlu dicatat,
kondisi OB bisa datang tiba-tiba tidak selalu disebabkan faktor pakan.
Faktor eksternal seperti mendengar kicauan burung sejenis atau lain
jenis di arena lomba juga bisa menyebabkan birahi Cucak Ijo mudah
meningkat.
Adapun burung jenis lainnya yang potensi memicu birahi Cucak Ijo antara
lain; Anis Merah, Cucak Jenggot, Kapak Tembak, dan burung Gereja. Birahi
Cucak Ijo juga bisa menjadi turun drastic karena faktor cuaca misalnya
mendung atau hujan.